Nusantara Renewable Energy Club

Post Top Ad

Sunday, December 30, 2018

Energi Terbarukan Indonesia di 2018

December 30, 2018 0
Tiga ratus enam puluh lima hari tahun 2018 akan tergenapkan malam ini. Dalam rentang waktu tersebut, banyak hal besar yang terjadi di negeri yang kita cintai ini. Dan yang akan teringat jelas beberapa diantaranya adalah tiga bencana alam besar yang merenggut ribuan jiwa kembali ke pangkuan Illahi di Lombok, Palu, Banten-Lampung. Juga kejadiann jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP sepertinya akan lekat diingatan kita.

Namun sebenarnya ada juga beberapa berita bahagia yang men-semerbak-an semangat hidup kita di negeri ini, beberapa diantaranya berasal dari sub-sektor energi terbarukan. Dari sedemikian banyak itu, kami mencatat tiga kejadian yang mungkin bisa kenang sebagai hal baik di tahun 2018 ini. 

Pertama adalah beroperasinya secara komersial Pembangkit Listrik Tenaga Bayu skala besar pertama di Indonesia. Bahkan Presiden Joko Widodo sendiri yang meresmikannya. 

"Bahagia sekali sore hari ini saya secara langsung melihat pembangkit listrik tenaga bayu di Sidrap ini baling-nya muter semua. Artinya angin di sini lebih dari cukup. Saya merasa seperti di Belanda, seperti di Eropa, tapi kita di Sidrap. Dengan peresmian PLTB pertama di Kabupaten Sidrap ini, komitmen 23% di tahun 2025 akan dapat terwujud.....Seperti yang kita lihat pada sore ini pembangkit listrik tenaga bayu atau angin, tidak hanya di Kabupaten Sidrap saja tetapi sudah dikerjakan dan selesai 80% di PLTB Kabupaten Jeneponto. Selain itu juga dikerjakan di Kabupaten Tanah Laut dan akan dimulai segera di PLTB di Jawa Barat Kabupaten Sukabumi.....Saya rasa kita memiliki potensi yang besar dalam hal pengembangan EBT. Untuk panas bumi kita memiliki potensi sebanyak 29.000 MW dan baru dikerjakan 2.000 (MW), lalu kita memiliki PLT Surya, PLTA yang saya kira potensinya juga sangat besar. Oleh sebab itu ke depan, berdasar target yang kita berikan yaitu 23% di tahun 2025 diharap bisa kita selesaikan". Kutipan sambutan Presiden tersebut merupakan hal yang sangat penting dimana Beliau masih memegang dan yakin pada target 23% energi terbarukan di 2025. 

Hal luarbiasa kedua yang akan mudah diingat adalah Mandatori B20. Dari Laman Resmi Kementerian ESDM, program Mandotori B20 adalah Program mandatori pencampuran biodiesel (B20) dilaksanakan per 1 September 2018 di seluruh sektor, serta mendapat perluasan insentif dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).Program mandatori BBN jenis biodiesel sebagai campuran BBM jenis minyak solar pada sektor PSO, Non PSO, industri dan komersial, serta pembangkit listrik merupakan program yang dilaksanakan untuk mendukung percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan. Tidak hanya mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan memberikan penghematan devisa melalui pengurangan impor solar, implementasi mandatori BBN diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan pemanfaatan ekonomi sawit. Sasaran perluasan mandatori B20 adalah sektor transportasi nonPSO, industri, pertambangan, dan kelistrikan, yang selama ini menjadi sektor yang masih belum optimal.

Pakar ekonomi dan energi Indonesia banyak berpendapat bahwa program ini adalah cara pemerintah untuk mengurani utang berjalan negara kita yang sangat dalam yang salah satu penyebabnya tingginya import BBM. Hal yang patut disyukuri adalah pemerintah memilih energi terbarukan sebagai solusi defisit yang makin menumpung. Semoga pemerintah dan kita semua sadar bahwa energi terbarukan dapat membuat kita berdiri mandiri dengan kaki sendiri.

Dan momen penting lainnya di 2018 ini bagi energi terbarukan adalah lahirnya Peraturan Menteri ESDM tentang pembangkit listrik tenaga surya atap yang  menggantikan Peraturan Direktur PLN yang mengatur hal ini sebelumnya, artinya jual beli listrik dari PLTS Atap oleh konsumen PLN saat ini telah diataur dalam sistem perundang-undang negara kita. 

Dikatakan tidak jauh berbeda dengan peraturan Direktur PLN sebelumnya, hal-hal penting yang harus menjadi catatan dari Peraturan Menteri ESDM nomot 49 tahun 2018 antara lain:
- Kapasitas PV Rooftop max 100% Daya Kontrak Pelanggan PLN saat ini;
- Offset 1:1 sebelumnya (perdir) berubah menjadi 1:0.65 (1 kWh dr PV Rooftop senilai 65% dr  PLN);
- Saldo kWh expired pd akhir tahun menjadi expired setiap akhir triwulan;
- Dalam waktu 15 hr setelah Permohonan masuk,  PLN harus Jawab OK setuju;
Pelanggan PVRooftop tidak kena biaya Paralel kecuali gol Pelanggan Industri.
Namun di media sosial, riak-riak ketidaksukaan mengiringi lahirnya peraturan menteri tersebut.Di laman berita kumparan berikut, Ketua Perkumpulan Pengguna Surya Atap (PPLSA) dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menyoroti harga listrik dari PLTS atap dalam Permen ESDM 49/2018 yang hanya dipatok sebesar 65 persen dari tarif listrik PLN. Menurut Bambang Sumaryo, Ketua PPLSA, di aturan PLN yang ada sebelum Permen ini terbit, listrik yang diekspor ke PLN dihargai sama dengan listrik PLN yang diimpor pelanggan. Dampaknya, biaya investasi yang dikeluarkan pengguna panel surya atap membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk balik modal. "Jadi tambah lama untuk pengguna rumah tangga. Kalau dulu 8 tahun sudah balik modal, sekarang mungkin jadi 12 tahun,". PPLSA tentu merasa merasa menjadi sebuah kemunduran bagi mereka jika dilihat dari segi harga yang mereka dapatkan.
Respon yang kebih mengejutkan malah datang dari PLN sendiri. Laman berita okezone.com malah menuliskan headline, "Rumah di Jakarta 'Dilarang' Pakai Rooftop Panel Surya, Ini Alasannya". Namun, Kementerian ESDM sebagai induk yang melahirkan mencoba meredam panas semu tersebut.Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana, menyampaikan bahwa nilai tersebut jangan diperdebatkan lagi, tarif jual listrik oleh pelanggan PLN yang memiliki PLTS Atap ini memang tak terlalu menarik. Sebab, beleid ini memang sebenarnya lebih ditujukan untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan, bukan untuk berbisnis jual beli listrik. Di laman resmi Kementerian, Menteri ESDM menyampaikan bahwa nilai jual 65% tersebut adalah yang ter-adil bagi PLN dan Konsumen. "Saya bilang ini fair karena kalau kita memakai pembangkit listrik tenaga surya di rumah, istilahnya gini, jual listrik dari konsumen ke PLN pakai kabelnya siapa? Kan pakai jaringan transmisi dan distribusinya PLN, gardu induknya juga PLN. Konsumen hanya pembangkit saja," kata Menteri ESDM saat itu.
Akhir kata, terima kasih 2018 atas kenangan manis dan pahitnya energi terbarukan. 2019, Please be nice. ๐Ÿ˜‰

 Image result for new year 2019 energy
Read More

Friday, November 30, 2018

Semarak Peraturan Menteri PLTS Atap

November 30, 2018 0
Beleid tentang energi terbarukan yang paling ditunggu tahun ini akhirnya dirilis. telah didengungkan sejak sebeleum lebaran 1439 H, pada 15 November 2018 ini Menteri ESDM menandatangi Peraturan Menteri ESDM No 49 tentang Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT PLN. Peraturan Menteri tersebut menggantikan Peraturan Direktur PLN yang mengatur hal ini sebelumnya, artinya jual beli listrik dari PLTS Atap oleh konsumen PLN saat ini telah diataur dalam sistem perundang-undang negara kita. 

Dikatakan tidak jauh berbeda dengan peraturan Direktur PLN sebelumnya, hal-hal penting yang harus menjadi catatan dari Peraturan Menteri ESDM nomot 49 tahun 2018 antara lain:
- Kapasitas PV Rooftop max 100% Daya Kontrak Pelanggan PLN saat ini;
- Offset 1:1 sebelumnya (perdir) berubah menjadi 1:0.65 (1 kWh dr PV Rooftop senilai 65% dr  PLN);
- Saldo kWh expired pd akhir tahun menjadi expired setiap akhir triwulan;
- Dalam waktu 15 hr setelah Permohonan masuk,  PLN harus Jawab OK setuju;
Pelanggan PVRooftop tidak kena biaya Paralel kecuali gol Pelanggan Industri.

Respon pihak-pihak yang terkait pada pembangkit listrik tenaga surya atap malah menunjukan nada negatif, baik dari PLN maupun asosiasi pengguna PLTS Atap saat ini.

Di laman berita kumparan berikut, Ketua Perkumpulan Pengguna Surya Atap (PPLSA) dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menyoroti harga listrik dari PLTS atap dalam Permen ESDM 49/2018 yang hanya dipatok sebesar 65 persen dari tarif listrik PLN. Menurut Bambang Sumaryo, Ketua PPLSA, di aturan PLN yang ada sebelum Permen ini terbit, listrik yang diekspor ke PLN dihargai sama dengan listrik PLN yang diimpor pelanggan. Dampaknya, biaya investasi yang dikeluarkan pengguna panel surya atap membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk balik modal. "Jadi tambah lama untuk pengguna rumah tangga. Kalau dulu 8 tahun sudah balik modal, sekarang mungkin jadi 12 tahun,". PPLSA tentu merasa merasa menjadi sebuah kemunduran bagi mereka jika dilihat dari segi harga yang mereka dapatkan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana, menyampaikan bahwa nilai tersebut jangan diperdebatkan lagi, tarif jual listrik oleh pelanggan PLN yang memiliki PLTS Atap ini memang tak terlalu menarik. Sebab, beleid ini memang sebenarnya lebih ditujukan untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan, bukan untuk berbisnis jual beli listrik.

Di laman resmi Kementerian, Menteri ESDM menyampaikan bahwa nilai jual 65% tersebut adalah yang ter-adil bagi PLN dan Konsumen. "Saya bilang ini fair karena kalau kita memakai pembangkit listrik tenaga surya di rumah, istilahnya gini, jual listrik dari konsumen ke PLN pakai kabelnya siapa? Kan pakai jaringan transmisi dan distribusinya PLN, gardu induknya juga PLN. Konsumen hanya pembangkit saja," kata Jonan di Jakarta, Rabu (28/11). Jonan membeberkan rincian biaya untuk elektrifikasi umumnya yaitu 2/3 digunakan untuk biaya pembangkit, sementara 1/3 lainnya biaya jaringan sebesar sepertiga dari total biaya elektrifikasi. "Biasanya rule of thumb-nya gini di Indonesia, termasuk susut jaringan. Kalau misalnya di Indonesia Timur bisa juga separuh untuk pembangkit, separuh untuk jaringan atau bisa dua kali lebih besar," jelasnya. Melihat biaya investasi yang semakin murah tersebut, Beliau pun yakin PLTS Atap bakal menjadi bisnis yang menjanjikan bagi sektor ESDM. "PLTS Atap ini saya yakin akan tumbuh besar karena harganya makin lama makin murah," ujar Jonan. 

Respon yang kebih mengejutkan malah datang dari PLN sendiri. Laman berita okezone.com malah menuliskan headline, "Rumah di Jakarta 'Dilarang' Pakai Rooftop Panel Surya, Ini Alasannya"

Disebutkan Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, pembangunan panel surya di rooftop rumah ini seharusnya dilakukan di perumahan-perumahan yang belum terjangkau listrik. Khususnya di wilayah Indonesia bagian timur yang mana ada beberapa daerah yang belum terjangkau oleh listrik. "Siapa sih yang bangun ini? Maksudnya perumahan yang seperti apa? Orang-orang yang sangat mampu untuk mengurangi biaya listrik atau orang miskin pasang surya? (Itu dibangun) masyarakat kalangan atas. Kalian utamakan yang mana? Aku mikirkan orang yang tidak mampu. Yang udah mampu, ya sudahlah, masih mau minta subsidi PLN," ujarnya saat ditemui di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (27/11/2018).
Sementara itu, Direktur Bisnis regional Jawa Bagian Timur dan Nusa Tenggara PT PLN (Persero) Djoko Abumanan mengatakan, adanya aturan tersebut harus disesuaikan dengan daerahnya masing-masing. Maksudnya, pemasangan panel surya di rooftop pada titik seharusnya dilakukan di daerah-daerah yang belum terjamah listrik.
Sementara kota-kota besar seperti Jakarta sudah seharusnya tidak dipasang listrik panel Surya di rooftop. Sebab menurutnya, listrik di Jakarta sudah sangat melimpah sekali.
"Seharusnya pemain rooftop itu bukan di Jakarta. Bukan PLN enggak fokus, tapi kita ingin pemain PLN itu di luar Jawa yang enggak ada listriknya. Justru pemain di Jakarta, listriknya berlebih, jarang mati," jelasnya.
"Saat ini ada 540 pemain, kebanyakan di Jakarta, (ada juga) di Bali. tapi kita ingin pemain PLN itu di luar jawa yang enggak ada listriknya, kami berani beli lebih," lanjutnya

 Hal yang sama juga disampaikan oleh kumparan.com dilaman berita mereka. Headline yang ditampilkan juga tidak kalah dengan okezone.com. "PLN: Tarif Listrik PLTS Atap Indonesia Lebih Mahal Dibanding Malaysia", "PLN: Rumah di Jakarta Jangan Pasang PLTS Atap, Listrik Sudah Berlebih"

Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 yang ditunggu untuk mempercepat implementasi energi surya di Indonesia memang membuat semarak namun sepertinya bukan semarak yang diharapkan.

Dorong Tenaga Surya Rooftop, Menteri ESDM: Harga Jualnya Harus Adil
sumber gambar: esdm.go.id
Read More

Wednesday, October 31, 2018

Energi Terbarukan Lebih Murah daripada Batu Bara di Asia Tenggara

October 31, 2018 0


Judul kabar tersebut merupakan alih bahasa dari berita laman berita cleantechnica.com yang dirilis pada 30 Oktober 2018 ini. Disebutkan pada berita yang ditulis oleh Joshua S Hill tersebut bahwa menurut kajian analisis oleh Carbon Tracker, sebuah organisasi think tank independent dengan kesimpulan akhir: Membangun PLTS dan PLTB pada akhir dekade berikutnya akan lebih murah dari pada melanjutkan operasi PLTU Batubara existing di Indonesia, Philipina, dan Vietnam.

Dalam hasil kajian tersebut disebutkan bahwa Indonesia, Philipina, dan Vietnam mengikuti jejak langkah negara maju yang mengandalkan energi batu bara yang murah  untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi sekaligus mensejahtarekan warganya. Namun demikian, hal tersebut akan berubah dalam 10 tahun mendatang seiring dengan menurunnya biaya pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan seperti PLTSurya dan PLTBayu.



The Cost of New Renewables versus the Capacity-Weighted Operating Cost of Coal under Different Fuel Prices in Indonesia  

Berdasarkan kajian tersebut disebutkan bahwa pembangunan PLTS akan lebih murah daripada mengoperasikan PLTU Batubara pada 2027 dan  pembangunan PLTB akan lebih murah dari pada mengoperasikan PLTU Batubara pada 2028.

Matt Gay dari Carbon Tracker menyampaikan bahwa konsumen negara tersebut akan menuntut listrik yang lebih murah dan pembangkit listrik energi terbarukan akan menjadi jawaban atas tuntutan tersebut karena dramatic-fall dari biaya pembangungan dan pengoperasian PLT EBT. Dia juga memberi catatan bahwa hal tersebut Pembuat Kebijakan harus bertindak sesegera mungkin agar transisi tersebut berjalan mulus.  

Sebastian Ljungwaldh dari Carbon Tracker juga menambahkan pemerintah negara tersebut dapat mempercepat waktu kedatangan PLT EBT tersebut dengan beberapak kebijakan seperti reformasi pasar listrik domestik, insentif keuangan, serta fasilitasi aliran dana privat. "Sebagai contoh Indonesia, investasi pada infrastruktur jaringan mereka akan memungkinkan peningkatan peran energi terbarukan dan kemudian akan mempermudah penyediaan jaminan keuangan, hal yang menjadi perhatian bagi IPP saat ini".

Sumber:
Read More

Wednesday, September 26, 2018

Banyak Bahaya pada "California 100% Energi Terbarukan di 2045" (?)

September 26, 2018 0
Melanjutkan berita kami sebelumnya tentang Negara Bagian California yang menerbitkan undang-undang baru yang menargetkan energi terbarukan 100% nanti. Minggu ini, laman daring majalah ekonomi kenamaan dunia, Forbes, meliris artikel pandangan Ariel Cohen dan  James C. Grant, Program Manager di International Market Analysis Ltd. terhadap aksi nyata Gubernur dan masyarakat California tersebut.

Senate Bill 100 (S.B.100) yang mahsyur tersebut mentargetkan 206 GWh listrik mereka akan disuplai dari energi primer bukan fossil yang saat ini sudah lebih dari 40%. S.B.100 disetujui oleh mayoritas pemilih, termasuk 81% dari Demokrat dan 53% dari Republik.

Pada artikel tersebut disebutkan bahwa aski yang dipilih tersebut mungkin akan menghasilkan gas emisi rumah kaca yang lebih besar daripada rencana sebelumnya serta biaya yang akan sangat besar untuk mencapai target fantastis tersebut. Sifat pembangkit listrik energi terbarukan yang intermitten -tergantung pada kondisi alam- akan membuat biaya-biaya yang sangat besar.

Biaya tersebut berasal dari biaya pembangunan pembangkit listrik energi terbarukannya, biaya pembangkit listrik back-up untuk suplai ketika pembangkit listrik dari energi terbarukan kehilangan sumber energi primernya, serta biaya untuk beban semu ketika listrik yang dihasilkan pembangkit listrik dari energi terbarukan lebih besar dari beban saat itu. Pada akhirnya, harga listrik akan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan pembangkit listrik energi fosil.

Disebutkan juga bahwa saat ini Jerman yang sangat maju penggunaan energi terbarukannya dengan Energiwende-nya sudah mengalami kenaikan tarif listrik kepada konsumen akibat membengkaknya biaya total sistem ketenagalistrikan mereka.

Pendapat diartikel tersebut mungkin benar jika kita hanya melihat dari kaca mata ekonomi dengan menghiraukan efek lainnya seperti lingkungan dan sosial. 

Meskipun pembangkit listrik fossil seperti baru bara dan minyak biaya produksi listrik mereka lebih murah, namun ketika kita menghitung akibat buruknya pada lingkungan seperi kenaikan suhu bumi, pencemaran udara dan air, serta kondisi agraria lingkungan sekitar pembangkit listrik maka kenaikan harga tarif listrik tersebut akan lebih kecil dibanding akan buruk sebelumnya. Lagi pula, dengan perkembangan teknologi dan efisiensi sistem, kenaikan harga tarif listrik tidak akan menjadi hal yang mengkhawatirkan tentunya.



Read More

Thursday, August 30, 2018

California 100% Energi Terbarukan di 2045

August 30, 2018 0
Badan Legislasi Negara Bagian California, California State Assembly, minggu ini mengesahkan undang-undang baru yang mentargetkan negara bagian tersebut akan bebas dari energi fossil pada 2045 nanti seperti yang dilaporkan newyorkpost kemaren pada laman daring mereka

Undang-undang tersebut dipromosikan oleh kubu Demokrat dan mendapatkan support dari banyak pesohor negeri Paman Sam tersebut. Al Gore dan mantan Gubernur mereka, Arnold Schwarzenegger  menuliskan surat dukungan mereka terhadap rencana tersebut. Juga ada beberapa cuitan dari  Leonardo DiCaprio, Chris Hemsworth and Mark Ruffalo yang mendukung gerakan ini. 

Assemblyman Bill Quirk, dari Demokarat, menyatakan bahwa mereka harus menjadi pemimpin untuk menunjukan bahwa hal itu bisa tercapai, "jika kita bisa mewujudkannya, semua akan mengikuti". 

Untuk mencapai target ini, Negara Bagian California sudah harus menggunakan energi angin, air, surya, dan energi terbarukan lainnya untuk memenuhi setengah kebutuhan listrik mereka pada 2026.

Meski begitu, beberapa nada minor juga muncul sebagai reaksi dari undang-undang ini. Seperti dari Quirck, seorang scientist pada perubahan iklim, yang tidak yakin bahwa target ini akan tercapai meski juga mengaprisiasi inisiatif negara bagian tersebut.

Nada minor lainnya datang dari kubu Republik yang mengatakan bahwa undang-undang ini hanya akan memberikan beban bagi rakyatnya karena harga energi yang akan naik.

Ahli energi terbarukan lainnya menyampaikan bahwa baterai dan penyimpanan energi dapat menjadi salah solusi agar target in tercapai.

Semoga Indonesia juga bisa mengikuti langkah ini.
Image result for solar cell in california
sumber dan hak cipta: https://pv-magazine-usa.com/
  
 
sumber:
   
Read More

Wednesday, July 4, 2018

Sorot Lampu Peresmian PLTB Sidrap

July 04, 2018 0
Senin lalu (2/6/18), Presiden Joko Widodo meresmikan PLTB Sidrap yang berkapasitas total 75 MW dengan 30 menaranya. Laman resmi kementerian ESDM mengutip sambutan Presiden yang sangat bersyukur dengan PLTB pertama di Indonesia ini, "Bahagia sekali sore hari ini saya secara langsung melihat pembangkit listrik tenaga bayu di Sidrap ini baling-nya muter semua. Artinya angin di sini lebih dari cukup. Saya merasa seperti di Belanda, seperti di Eropa, tapi kita di Sidrap. Dengan peresmian PLTB pertama di Kabupaten Sidrap ini, komitmen 23% di tahun 2025 akan dapat terwujud.....Seperti yang kita lihat pada sore ini pembangkit listrik tenaga bayu atau angin, tidak hanya di Kabupaten Sidrap saja tetapi sudah dikerjakan dan selesai 80% di PLTB Kabupaten Jeneponto. Selain itu juga dikerjakan di Kabupaten Tanah Laut dan akan dimulai segera di PLTB di Jawa Barat Kabupaten Sukabumi.....Saya rasa kita memiliki potensi yang besar dalam hal pengembangan EBT. Untuk panas bumi kita memiliki potensi sebanyak 29.000 MW dan baru dikerjakan 2.000 (MW), lalu kita memiliki PLT Surya, PLTA yang saya kira potensinya juga sangat besar. Oleh sebab itu ke depan, berdasar target yang kita berikan yaitu 23% di tahun 2025 diharap bisa kita selesaikan"

Berita tentang peresmian dan keberhasilan ini ramai di media massa dan media sosial lainnya, tagar #KincirAnginSidrap menjadi trending topic hari itu dimana-mana. Nadanya kicauanpun rata-rata sama, puja-puji pada pemerintah bagi keberhasilan ini sekaligus optimisme akan tercapainya 23% porsi energi terbarukan di bauran energi Indonesia pada 2025 nanti. Sebenarnya hal ini adalah wajar jika melihat bahwa ini adalah salah milestone bagi republik ini, satu bangsa boleh berbahagia.

Tapi menerut kami, sorot lampu peresmian ini tidak hanya menjadi porsi satu pihak saja. Ada banyak pihak yang bekerja keras untuk mewujudkan mimpi memiliki kebun angin di Nusantara ini. Salah satunya pemilik dan operator PLTB Sidrap ini. UPC Renewable Indonesia.

Pada hari peresmian PLTB Sidrap, IESR, lembaga pemikir untuk isu energi berkicau mengenai kekhawatirannya tentang energi terbarukan dibalik peresmian PLTB Sidrap tersebut.

Kementerian ESDM juga berkicau tentang jalan panjang pembangunan PLTB Sidrap. 


 
Sobat Energi! Senin (2/7) siang kemarin, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap baru saja diresmikan oleh Presiden . Yuk lihat foto-foto peresmian kemarin Sobat! 

Banyak yang nanya sama Minergi, kapan bangunnya? Tiba2 udah berdiri dan diresmiin aja? ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š Dimulai pd 2012, MoU antara dgn UPC Asia Wind Limited. Indonesia berdiri dan kemudian bermitra dgn PT Binatek Energi Terbarukan.

Dilanjutkan pembicaraan antara UPC Renewables dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada 2013 serta MoU dengan Pemprov Sulsel pada Oktober 2014. Pembebasan lahan pun bergulir berkat dukungan masyarakat.

Perjanjian Jual Beli dengan pada Agustus 2015 saat ke 4 di Jakarta dilanjutkan Letter of Cooperation terkait pendanaan antara dengan pada April 2016. 

Groundbreaking dilakukan hingga akhirnya kapal pembawa baling-baling tiba pd 24 Agustus 2017 di Pelabuhan Pare-pare! Berkat dukungan Masyarakat Sulsel,Pemprov Sulsel,Pemkab Sidrap,Pemkot Pare-Pare,Polda Sulsel,Pelindo IV dari lahan, koordinasi serta pengamanan transportasi.

Pengamanan transportasi diperlukan karena pertama kalinya trailer 16 sumbu melewati jalanan Pare-pare ke lokasi proyek di perbukitan. Simak di video berikut: 

Dan 2018, kini baling-baling berputar dan diresmikan oleh Presiden ! TERIMA KASIH kpd semua pihak yg sdh mendukung hingga berdiri kokoh menghasilkan listrik dari angin (tenaga bayu).  
Sudah sepatutnya ucapan selamat dan terima kasih serta sorot lampu dihaturkan kepada pihak-pihak yang ikut berkontribusi sehingga PLTB Sidrap ini dapat menerangi rakyat Sulawesi Selatan. Mulai dari Investor dan pemilik perusahaan, lembaga keuangan yang berani mensuport, hingga rakyat dan pemerintah Sulawesi Selatan. Dan terutama kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang memberikan rahmat dan karuniaNya yang tak hingga.

Sejatinya peresmian ini seharusnya menjadi ajang refleksi bagi Bangsa Indonesia dan Pemerintah untuk menilai daya dan upaya yang telah dilakukan demi tercapainya target 23% porsi energi terbarukan di bauran energi Indonesia pada 2025 nanti.

Salam.

Read More

Monday, May 14, 2018

PLTB Jeneponto, Kebun Angin ke 2 di Indonesia

May 14, 2018 0
Image result for pltb jeneponto
sumber dan hak milik foto : Tribun Timur - Tribunnews.com

Meski PLTB Sindereng Rappang (Sidrap), kebun angin pertama di Indonesia, belum jadi diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Joko Widodo, Kebun angin ke-dua PLTB Jeneponto atau yang dikenal dengan PLTB Tolo 1 akan selesai dan dapat beroperasi pada Juli tahun ini.


Pada laman detik.com pada Senin 14 Mei 2018, General Manager Business Development Vena Energy yang sebelumnya bernama Equis Energy menyampaikan bahwa Juli nanti ditargetkan pekerjaan fisik pembangkit akan selesai dan akan kita lakukan uji coba, sementara untuk COD akan menunggu sistem integrasi siap.

PLTB Tolo 1 sendiri berkapasitas 72 MW dengan 20 turbin dengan kapasitas masing-masing 3,6 MW. Harga jual listrik dari PT Energi Bayu Jeneponto kepada PLN untuk PLTB ini sebesar  US$ 10,89 cent/kWh berdasarkan perjanjian yang di tandatangani pada 14 November 2016. 

Semoga semakin banyak berita baik energi terbarukan bagi Nusantara kita untuk Bumi yang layak untuk anak cucu kita.

Read More

Monday, April 9, 2018

Google Siap Mengikuti Langkah Lego untuk #Go100RE

April 09, 2018 0
Image result

Google bertekad untuk memenuhi kebutuhan daya listrik mereka untuk pusat data dan operasinya dari energi primer terbarukan seperti yang disampaikan Neha Palmer, head of energy strategy at Google kepada laman The Financial Times berikut.

Investing in renewables makes sense for our business, These are long-term transactions with fixed prices . . . the prices in some markets are competitive or even lower than conventional power.” Sebut Ms. Palmer.

Google telah berinvestasi hingga 3 milliar USD pada pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga angin secera global diseluruh dunia. Investasi ini seiring dengan peningkatan energi yang pesat untuk pusat data untuk Alphabet, perusahaan induk Google. 

Dengan menggunakan 3 GW daya listrik dari energi terbarukan, saaat ini Alphabet menjadi korporasi pembeli listrik energi terbarukan terbesar menurut Bloomberg New Energy Finance, mengungguli Amazon dan Apple. Kedepan Alphabet masih akan mengembangkan penggunaan energi terbarukannya, termasuk berinvestasi lansung pada industri hijau ini.

Semakin banyak korporasi besar yang menyatakan keseriusannya pada energi terbarukan, seharusnya menjadi penyemangat bagi banyak korporasi dan institusi pemerintahan lainnya untuk siap menuju era baru Energi Terbarukan. #Go100RE

sumber berita :
https://www.ft.com/content/3f259ae2-381a-11e8-8eee-e06bde01c544
Read More

Thursday, March 22, 2018

International Solar Alliance : Si Kaya bantu Si Miskin ? (2)

March 22, 2018 0

Sumber dan Pemilik Foto : http://www.thejakartapost.com/life/2018/03/12/macron-pledges-700-million-euros-for-new-solar-projects.html | (AFP/Ludovic Marin)

Melanjutkan tulisan pertama kami tentang International Solar Alliance, ada hal menarik yang terlihat agak sedikit gamblang pada aliansi kerja sama pemanenan energi matahari ini.

Pada 10 Maret 2018 yang lalu, India mengadakan dan menjadi tuan rumah The first International Solar Alliance summit dan berkolaborasi dengan co-host Prancis. Pertemuan dilaksanakan di Rashtrapati Bhavan Convention Centre dan dihadiri oleh 27 kepala pemerintahan, 19 menteri dari negara anggota, 10 pimpinan bank internasional dan organisasi internasional lainnya dan dipimpin oleh Presiden India Ram Nath Kovind dan Presiden Prancis Emmanuel Macron seperti yang tertulis pada media briefing resmi Kementerian Luar Negeri India.

Tidak banyak hal yang mengejutkan muncul dari pertemuan tingkat tinggi tersebut. Para delegasi kembali menegaskan keinginan mereka untuk bekerja sama secara aktif untuk memanen energi matahari untuk cita-cita mulai demi Bumi yang tidak semakin panas.

Selain beberapa seremoni penandatanganan beberapa kesepakatan, seperti antara ISA dengan International Renewable Energy Agency (IRENA) yang setuju bersama-sama untuk mempromosikan penggunaan energi matahari, ada beberapa hal menarik yang terjadi atau terlontar pada acara yang secara resmi bernama Founding Conference of ISA.

Salah satunya adalah janji Presiden Macron yang akan menggolontorkan dana tambahan  hingga 700 juta euro atau sekitar 860 juta dolar AS pada 2020 kepada para anggota ISA yang masih sebagai negara berkembang baik dalam bentuk pinjaman ataupun hibah. Pastinya dana tersebut dipergunakan untuk mendanai proyek-proyek pembangkit listrik tenaga surya. Menurut Presiden Macrcon, dana tambahan atas janji 300 Juta Euro sebelumnya ini, digunakan untuk mendokrak perkembangan pemanfaatan energi surya yang saat ini masi terbilang lambat.
India sendiri sebagai penggagas utama juga berjanji memberikan banyak kontribusi kepada negara-negara anggota dalam pengembangan energi surya mereka melalui pendanaan dan penyediaan teknologi pada proyek PLTS di negara anggota ISA.

Dengan segala fasilitas dan bantuan yang dijanjikan tersebut, banyak negara-negara berkembang di Afrika, yang merupakan prospected member, menjadi anggota secara resmi dengan meratifikasi  Framework Agreement. Mereka pastinya akan sangat terbantu dengan bantuan tersebut. Selain memperbesar porsi energi terbarukan mereka, pembangkit listrik tenaga surya tersebut juga menjadi pemenuhan kebutuhan dasar listrik rakyat mereka dengan harga yang murah.

Lalu apakah ISA hanyalah tempat Si Kaya membantu Si Miskin ?. Dengan tujuan pendirian ISA yang sederhana seperti yang kita bahas pada tulisan pertama, maka jawabnya kemungkinan besar iya. Namun yang menjadi pertanyaan berikutnya, apa keuntungan utama yang didapat oleh Si Kaya di tubuh ISA?. Hanya waktu yang mungkin bisa menjawab.





Read More

Monday, March 19, 2018

International Solar Alliance : Langkah Nyata "The Sunshine Countries" ? (1)

March 19, 2018 0
 










(note: bagi pemercaya bumi datar, kami sarankan untuk tidak melanjutkan membaca artikel ini)

Bumi yang kita tempati saat ini dirupakan berbentuk bulat (Globe) dan memiliki jari-jari paling besar pada khatulistiwa. Sehingga  matahari beredar pada belahan bumi tersebut lebih lama dari yang lainnya. Belahan bumi yang mendapat matahari tersebut diisi oleh negara-negara yang dikenal dengan The Sunshine Countries. Mereka berada diantara 23,43 derajat lintang utara (Tropic of Cancer) hingga 23,43 derajat lintang selatan ( Tropic of Capricorn)

Negara tersebut rata-rata berada di Asia, Afrika, dan Amerika. Sebenarnya tidak ada ikatan yang erat diantara mereka. Hingga pada November 2015, saat berlangsungnya KTT UNFCC, Perdana Menteri India Narendra Modi meluncurkan International Solar Alliance dan mengundang The Sunshine Countries untuk bergabung.

Tujuan utama dari aliansi tersebut adalah  mendayagunakan energi surya secara maksimal untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Pada halaman resmi mereka, disebutkan bahwa objectif dari aliansi adalah untuk bersama-sama secara kolektif membahas tantangan besar dan utama terhadap peningkatan penggunaan energi surya  sesuai dengan kebutuhan negara masing-masing.

Sebenarnya, terdapat 121 negara yang bisa disebut sebagai The Sunshine Countries atau ISA menyebut sebagai prospected member country. Namun demikian baru 61 negara yang telah menandatangani ISA Framework  Agreement dan baru 32 diantaranya yang telah meratifikasi sebagai produk hukum dalam negeri masing-masing. Salah satu diantara 32 negara tersebut adalah Prancis. Daftar negara tersebut bisa dilihat pada laman resmi ISA berikut.

Langkah India yang didukung penuh oleh Prancis tersebut sebenarnya cukup disambut positif oleh negara-negara The Sunshine Countries. Karena pada dasarnya aliansi tersebut berujuan untuk menyebarluaskan penggunaan energi surya dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Namun melihat jumlah negara yang baru meratifikasi ISA Framework  Agreement baru sekitar seperempat dari The Sunshine Countries, kita melihat seperti ada keraguan banyak negara untuk terikat secara hukum pada aliansi ini. Indonesia termasuk salah satunya.

Mungkin jawaban pertanyaan pada judul sepertinya sangat tepat dijawab oleh orang-orang yang memahami dunia geopolitik internasional maupun dunia diplomasi internasional. Karena jika kita hanya melihat hal-hal yang ditawarkan oleh ISA, seharusnya semua The Sunshine Countries akan langsung ikut secara resmi.

Lalu apakah ini langkah nyata ?

--
nantikan bahasan kami tengtang ISA berikutnya..
Read More

ads2