Banyak Bahaya pada "California 100% Energi Terbarukan di 2045" (?) - Nusantara Renewable Energy Club

Post Top Ad

Wednesday, September 26, 2018

Banyak Bahaya pada "California 100% Energi Terbarukan di 2045" (?)

Melanjutkan berita kami sebelumnya tentang Negara Bagian California yang menerbitkan undang-undang baru yang menargetkan energi terbarukan 100% nanti. Minggu ini, laman daring majalah ekonomi kenamaan dunia, Forbes, meliris artikel pandangan Ariel Cohen dan  James C. Grant, Program Manager di International Market Analysis Ltd. terhadap aksi nyata Gubernur dan masyarakat California tersebut.

Senate Bill 100 (S.B.100) yang mahsyur tersebut mentargetkan 206 GWh listrik mereka akan disuplai dari energi primer bukan fossil yang saat ini sudah lebih dari 40%. S.B.100 disetujui oleh mayoritas pemilih, termasuk 81% dari Demokrat dan 53% dari Republik.

Pada artikel tersebut disebutkan bahwa aski yang dipilih tersebut mungkin akan menghasilkan gas emisi rumah kaca yang lebih besar daripada rencana sebelumnya serta biaya yang akan sangat besar untuk mencapai target fantastis tersebut. Sifat pembangkit listrik energi terbarukan yang intermitten -tergantung pada kondisi alam- akan membuat biaya-biaya yang sangat besar.

Biaya tersebut berasal dari biaya pembangunan pembangkit listrik energi terbarukannya, biaya pembangkit listrik back-up untuk suplai ketika pembangkit listrik dari energi terbarukan kehilangan sumber energi primernya, serta biaya untuk beban semu ketika listrik yang dihasilkan pembangkit listrik dari energi terbarukan lebih besar dari beban saat itu. Pada akhirnya, harga listrik akan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan pembangkit listrik energi fosil.

Disebutkan juga bahwa saat ini Jerman yang sangat maju penggunaan energi terbarukannya dengan Energiwende-nya sudah mengalami kenaikan tarif listrik kepada konsumen akibat membengkaknya biaya total sistem ketenagalistrikan mereka.

Pendapat diartikel tersebut mungkin benar jika kita hanya melihat dari kaca mata ekonomi dengan menghiraukan efek lainnya seperti lingkungan dan sosial. 

Meskipun pembangkit listrik fossil seperti baru bara dan minyak biaya produksi listrik mereka lebih murah, namun ketika kita menghitung akibat buruknya pada lingkungan seperi kenaikan suhu bumi, pencemaran udara dan air, serta kondisi agraria lingkungan sekitar pembangkit listrik maka kenaikan harga tarif listrik tersebut akan lebih kecil dibanding akan buruk sebelumnya. Lagi pula, dengan perkembangan teknologi dan efisiensi sistem, kenaikan harga tarif listrik tidak akan menjadi hal yang mengkhawatirkan tentunya.



No comments :

Post a Comment

ads2