Energi Terbarukan Indonesia di 2019 - Nusantara Renewable Energy Club

Post Top Ad

Thursday, January 31, 2019

Energi Terbarukan Indonesia di 2019

Tidak terasa bulan pertama tahun baru 2019 hampir genap 31 hari. Waktu terasa berlalu semakin cepat seperti perkembangan teknologi dunia saat ini. Mungkin juga perasaan tersebut juga datang karena bumi yang berubah karena pengaruh pemanasan global yang semakin gemilang.

Rasanya masih tepat untuk membahas prediksi perkembangan energi terbarukan di Indonesia pada 2019 ini. Tahun 2019 akan menjadi tahun penting bagi sejarah Indonesia dimata anak cucu bangsa berdekade nanti karena tahun ini adalah tahun pemilihan umum pertama yang menyerentakan pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Semua energi seperti tersedot pada pusaran isu tersebut, mulai dari pialang lantai bursa efek di jantung ibu kota negara hingga bapak rumah tangga perumpi di warung kopi di pelosok negeri, semuanya membahas pemilu april 2019 dan semua drama yang mengikutinya.

Hingga rasa-rasanya, energi terbarukan bukan isu seksi yang akan dibicarakan banyak  investor sebagai bagian dari rencana portofolionya. Institute for Essential Services Reform (IESR), sebuah thinktank organisasi di bidang energi, pada Desember 2018 merilis Indonesia Clean Energy Outlook sebagai review mereka terhadap perkembangan energi terbarukan Indonesia di 2018 dan prediksi.

Enam point penting diangkat oleh IESR dan rasanya perlu pemangku kepentingan energi terbarukan renungkan. Pertama dan menurut kami menjadi yang terpenting yaitu butuh transisi regulasi yang agresif termasuk didalamnya regulasi yang mengatur hal-hal penopangnya seperti sektor keuangan. "Terobosan gila" menjadi sebuah hal yang sangat dibutuhkan untuk mengubah laju pertumbuhan energi terbarukan yang semakin lambat jika tidak mau dibilang stagnan. Masalahanya, dengan kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu dan kondisi geopolitik dalam negeri yang bagai api dalam sekam, hampir mustahil "terobosan gila" akan muncul dalam sebelas bulan mendatang.

Dan poin kedua dari catatan IESR tersebut adalah tidak akan ada perubahan regulasi besar-besaran tahun ini. Pemerintah diprediksi akan mempertahankan kondisi saat ini demi menjaga stabilitas. Hal ini seakan menjawab dari tantangan di poin pertama sebelumnya.

IESR memprediksi realisasi investasi bidang energi terbarukan akan rendah. Faktor utama dari ramalan tersebut adalah regulasi yang ada dirasa tidak supportif oleh beberapa pihak. Penyebab lainnya adalah menurunnya konsumsi listrik, terutama untuk kegiatan produktif, karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat dan dibawah target yang dicanangkan pemerintah.

Catatan keempat, Produsen listrik (independence power producer) energi terbarukan dengan skala kecil akan kesulitan mencari pendanaan di tahun 2019 bisa jadi karena hasil due dilligence yang tidak menggembirakan disebabkan data dukung studi yang baik. Menurut IESR, Pemerintah dapat memberikan solusi untuk permasalahan ini.

Prediksi di 2019 kelima oleh IESR adalah penggunaan biodiesel akan meningkat dengan cepat mengikuti laju sejak 2018. Tahun lalu, program B20 berhasil menyelamatkan Indonesia dari defisit transaksi berjalan yang sangat parah karena impor bahan bakar minyak. Sepertinya hal baik ini akan kembali diteruskan pemerintah.

Terakahir, IESR menyebutkan meski Menteri ESDM merilis Peraturan Menteri  ESDM No 49 Tahun 2018 yang mengatur PLTS Atap, pada tahun ini tidak akan terjadi sebuah lonjakan pertumbuhan pengguna PLTS Atap. Beleid tersebut dirasa tidak cocok untuk bangunan komersial dan bangunan publik yang sebenarnya memiliki potensi besar.

Meski terlihat akan menjadi tahun yang tidak cerah bagi energi terbarukan di Indonesia. Namun dengan sebelas bulan yang tersisa dan kerja cerdas, energi terbarukan Indonesia bisa jadi lebih baik.

No comments :

Post a Comment

ads2